√ BULLYING: Pengertian, Menurut Para Ahli, Bahaya dan Cara Mengatasinya

Loading...
Loading...
Daftar Isi [Tampil]
√ BULLYING: Pengertian, Menurut Para Ahli, Bahaya dan Cara Mengatasinya

Pengertian bullying

Definisi bullying ialah bentuk perbuatan atau tingkah laku agresif contohnya mengganggu, menyakiti atau melecehkan bahkan mengancam yang diperbuat dengan cara sadar, sengaja dengan cara berulang-ulang oleh seseorang atau sekelompok orang jadi menyebabkan gangguan dengan cara psikis pada si korban bully contohnya stress, ketakutan, merasa depresi, cemas dengan cara berlebihan bahkan ada korban yang jatuh sakit, sulit makan & sulit tidur sebab efek yang ditimbulkan oleh pelaku bully yang tanpa memperdulikan macam macam norma yang berlaku.

Berikut ialah dampak bullying menurut para ahli:


  1. Bully Menurut Ken Rigby (2002:15) – “Penekanan atau penindasan yang berulang-ulang dengan cara psikologis atau fisik terhadap seseorang yang mempunyai kekuatan atau kekuasaan yang kekurangan, oleh seseorang atau kelompok orang yang lebih kuat.”
  2. Bully Menurut Andrew Mellor (1997) – seorang psikolog dari University of Edinburgh, Inggris,mendefinisikan bahwa “bullying terjadi saat seseorang merasa teraniaya oleh perbuatan orang lain & dirinya takut bila perilaku kurang baik tersebut bakal terjadi lagi, & merasa tak berdaya untuk mencegahnya”.
  3. Bully Menurut Barbara Coloroso (2003:44) – “Bullying ialah perbuatan bermusuhan yang diperbuat dengan cara sadar & disengaja yang bermanfaat untuk menyakiti, contohnya menakuti melewati ancaman penyerangan & menimbulkan terror. Tergolong juga perbuatan yang direncana bakal maupun yang spontan bersifat nyata atau hampir tidak tampak, di hadapan seseorang atau di belakang seseorang, mudah untuk diidentifikasi atau terselubung dibalik persahabatan, diperbuat oleh seorang anak atau kelompok anak”.
  4. Bully MenurutOlweus – Author of Bullying at School perbuatan bullying bisa dibagi menjadi dua yaitu Direct bullying : yakni perbuatan bully dengan intimidasi dengan cara fisik maupun verbal. Indirect Bullying: yakni perbuatan bully dengan meperbuat isolasi dengan cara sosial terhadap si korban
  5. Bully Menurut bernama Andi Priyatna (2010:3) – ada beberapa jenis-jenis bullying yang dibagi sebagai berikut : Fisikal : perbuatan bully dengan memukul, menendang, mendorong, merusak. Verbal : berupa bully yang diperbuat mengolok-olok nama panggilan, mengancam, menakut-nakuti terhadap si korban. Sosial : pembullyan pada korban dengan menyebarkan gossip, rumor, dikucilkan dari pergaulan, & sejenisnya. Cyber/elektronik: perbuatan mempermalukan orang dengan menyebar gossip di jejaring social internet (missal : Facebook contohnya mengupload gambar yang bisa mempermalukan si korban)


Berikut ialah beberapa bahaya bullying bagi para pelaku & para korban bullying :

Bahaya Pelaku Bully 

Bahaya atau efek dari tingkah laku bullying tidak hanya ditanggung oleh si korban bullying, namun juga memberi pengaruh pada si pelaku bullying, korban bullying, begitu pula pada anak yang melihat langsung perbuatan bully tersebut.

Berdasarkan pada penelitian mengenai pelaku bullying di dunia menunjukkan bahwa satu dari tiga anak mengaku sempat meperbuat perbuatan bullying pada kawannya. Mereka juga yang biasa menyaksikan perbuatan bullying pada kawan-kawannya bakal mengalami resiko menjadi pribadi individu yang penakut & rendah diri,sering merasakan kecemasan yang berlebihan,dan merasa keamanan diri rendah.

Menurut Sanders (2003; dalam Anesty, 2009) National Youth Violence Prevention yang mengemukakan bahwa pada umumnya, para pelaku bullying mempunyai rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi dengan harga diri yang tinggi pula, jadi cenderung bersifat maupun bertindak dengan cara agresif dengan perilaku yang pro terhadap kekerasan, sebagian besar mempunyai tipikal orang berwatak keras, mudah marah atau emosinya cepat naik & impulsif, mempunyai rasatoleransi yang rendah terhadap hal yang membuat frustasi baginya atau dibenci.

Para pelaku bullying ini mempunyai kebutuhan kuat untuk rutin ingin mendominasi orang lain kemudian kekurangan berempati terhadap targetnya. Apa yang diungkapkan oleh Sanders,hal ini hampir sama dengan yang dikemukakan oleh seorang pakar bernama Coloroso (2006:72) yang menyebutkan bahwa siswa yang ikut & terperangkap dalam peran meperbuat perbuatan bullying,maka ia tidak bisa mengembangkan hubungan yang sehat, kekurangan cakap untuk memandang dari perspektif lain, tidak mempunyai rasa empati, serta berpendapat bahwa dirinya kuat & disukai jadi bisa mempengaruhi pola hubungan sosialnya di masa yang bakal datang.

Dengan meperbuat bullying, pelaku bakal berpendapat bahwa mereka mempunyai kekuasaan penuh terhadap kondisi. Apabila didiamkan semakin-menerus tanpa intervensi dari pihak tertentu, perilaku bullying ini bisa menyebabkan terbentuknya perilaku lain contohnya meperbuat kekerasan terhadap anak & perbuatan kriminal lainnya jadi bisa menjadi penyebab terjadinya perbuatan penyalahgunaan kewenangan antar sesama kawan.

Bahaya korban bully

Berdasarkan hasil penelitian,hal ini bisa digambarkan bahwa satu dari tiga anak di semua dunia mengaku sempat mengalami bullying, baik di sekolah, di lingkungan kurang lebih atau dengan cara online (melewati media komunikasi contohnya hp, & media sosial contohnya facebook , twitter & sebagainya).


  1. Korban bullying merasa minoritas
  2. Korban bullying tidak betah ke sekolah
  3. Membuat si korban merasa cemas & ketakutan jadi mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah bagi korban bully pelajar & menuntun mereka untuk menghindari sekolah. 
  4. Bila bullying semakin berlanjut dalam jangka waktu yang lama, maka bisa mempengaruhi kepercayaan diri siswa, terjerat dalam isolasi sosial, menimbulkan perilaku hebat diri dari pergaulan, menjadikan si korban rentan mengalami stress & depreasi, serta merasa tidak aman. Hal tersebut didasarkan pada hasil studi yang diperbuat National Youth Violence Prevention Resource Center oleh Sanders (2003; dalam Anesty, 2009)
  5. Korban bully bakal merasa depresi & marah saat ia mengalami bully dengan cara semakin-menerus & berjalan lama. Ia kemungkinan marah terhadap dirinya sendiri, bisa juga terhadap si pelaku bullying, terhadap orang-orang di kurang lebihnya & terhadap orang dewasa ,pihak tertentu, keluarganya maupun orang di kurang lebih yang tidak bisa atau tidak mau menolongnya atau bisa melindunginya. 
  6. Hal tersebut kemudan mulai mempengaruhi prestasi akademiknya bila korban bully seorang siswa. Jadi lama-kelamaan korban bully tidak sanggup lagi timbul dengan cara-cara yang konstruktif untuk mengontrol hidupnya, & mungkin bakal mundur lebih jauh lagi dari kehidupan sosial alias mengasingkan diri. (Coloroso :2006)
  7. Seorang pelajar yang mengalami bully ia bakal jarang hadir di sekolah sebab takut jadi menimbulkan prestasi akademik yang rendah bagi siswa, merasa depresi di usia dini. Tidak hanya tersebut bakal terjadi penurunan skor tes kecerdasan (IQ) & penurunan drastis pada performa analisis siswa. Hal tersebut sesuai penelitian Banks (1993, dalam Northwest Regional Educational Laboratory, 2001; & dalam Anesty, 2009).
  8. Korban bully meperbuat bunuh diri (commited suicide) Si korban terpaksa meperbuat bunuh diri sebab merasa tidak kuat,tidak lagi bisa menahan & merasa dirinya tidak sanggup meperbuat apa-apa dari perlakuan bully oleh seseorang atau sekelompok orang. 
  9. Dirinya sering dirundung rasa ketakutan,merasa dirinya terancam & kesepian jadi jalan satu-satunya yang ia perbuat yakni dengan bunuh diri. Menurut riset di Amerika, Jumlah korban bully yang meperbuat bunuh diri semakin meningkat 50% dari tahun ke tahun hanya dalam 3 dekade.
  10. Korban bully meperbuat balas dendam bahkan hingga pada pembunuhan pada orang yang meperbuat perbuatan bully padanya. Pembunuhan mereka perbuat yakni dengan cara menembak langsung atau meperbuat pembantaian dengan cara sadis untuk menebus sakit hati si korban yang mengalami penderitaan dibully


Cara mengatasi bullying


a. Penanganan bagi si orang tua/wali

Orang tua mendalami & mengetahuii karakter a Butuh kami sadari, bahwa salah satu penyebab terjadinya bullying ialah sebab ada anak yang terbukti mempunyai karakter yang mudah dijadikan korban bully. Sikap “cepat merasa bersalah”, maupun penakut, yang dimiliki anak.

Dengan mengetahuii karakter anak,kita bisa mengantisipasi beberapa potensi intimidasi & perbuatan bullying menimpa anak, atau setidaknya lebih cepat menemukan solusi supaya kami menjadi lebih siap dengan cara mental. Menjalin komunikasi & perhatian yang besar dengan anak.

Tujuannya ialah anak bakal merasa lumayan enjoy untuk bercerita terhadap orang tuanya saat mengalami intimidasi di sekolah. Ini menjadi kunci beberapa hal, tergolong untuk memonitor apakah sebuah permasalahan sudah terpecahkan atau belum.

Berikut ialah peran orang tua dalam mendidik anak supaya tidak terjadinya bullying yang bakal menimbulkan bahaya bullying pada anak tersebut :

Pihak orang tua turut ikut campur di saat yang Seringkali anak yang menjadi korban intimidasi atau bullying tidak bahagia kalau orang tuanya turut campur. Situasinya menjadi paradoksal: Anak menderita sebab diintimidasi, namun dirinya takut bakal lebih menderita lagi kalau orang tuanya turut campur.

Sebab para pelaku bullying bakal mendapat ‘bahan’ tambahan, yaitu mencap korbannya sebagai “anak manja”. Oleh sebabitu, orang tua mesti sangatlah mempertimbangkan saat yang cocok saat memutuskan untuk ikut campur menyelesaika npersoalan si anak.

Ada beberapa indikator orang tua ikut campur yaitu: (1) bila persoalan si anak tak kunjung terberakhirkan, (2) permasalahan bullying si anak berulang-ulang, (3) Kalau permasalahan bullying berupa pemerasan, melibatkan uang dalam jumlah lumayan besar, (4) Ada indikasi bahwa prestasi belajar anak mulai terganggu & menurun

Orang tua berkata dengan orang atau pihak tertentu yang t Apabila sudah memutuskan untuk ikut campur dalam menyelesaikan persoalan, maka pertimbangkan dengan tenang apakah bakal langsung berkata dengan pelaku intimidasi atau bullying, orang tuanya, atau gurunya.

Jangan mengajarkan anak menghindar dari Dalam beberapa permasalahan, anak-anak kadang merespon intimidasi yang dialaminya di sekolah dengan minta pindah atau malah berhenti sekolah. Kalau dituruti, tersebut sama saja dengan lari dari persoalan. Jadi, sebisa mungkin jangan dulu dituruti. Kalau ada persoalan di sekolah, persoalan tersebut yang mesti diberakhirkan, bukan dengan ‘lari’ ke sekolah lain atau ke tempat lain.

b. Penanganan bagi pihak sekolah

Saling bekerja sama antar pihak sekolah & struktur komite sekolah (guru maupun staff) & meminta mereka menolong & memantau bila ada perubahan emosi atau fisik anak murid mereka umpama sering tampak ketakutan atau tampak babak belur berangkat sekolah. Mewaspadai perbedaan ekspresi penyerangan & interaksi yang tidak sama yang ditunjukkan anak di rumah & di sekolah (ada atau tidak ada orang tua).

Membina kedekatan dengan kawan-kawan sebaya atau kawan sepergaulan si murid atau kawan sekelas dengan cara mencermati tiap cerita mereka saat sedang berkawan. Mewaspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasanya. Meminta bantuan pihak ketiga yang pakar (psikolog atau pakar yang profesional) untuk menangani bila ditemukan permasalahan perbuatan bullying di sekolah antar siswa-siswa sendiri.

Nah itulah pengertian bullying, bahaya bullying dan cara mengatasi bullying.
Loading...

0 Response to "√ BULLYING: Pengertian, Menurut Para Ahli, Bahaya dan Cara Mengatasinya"

Posting Komentar

Bebas berkomentar dengan akun apapun